BAB VI. DISTRIBUSI NORMAL,
DISTRIBUSI T, dan DISTRIBUSI F DISTRIBUSI NORMAL Distribusi normal adalah
distribusi dari variabel acak kontinu. Kadang-kadang distribusi normal disebut
juga dengan distribusi Gauss. Distribusi ini merupakan distribusi yang paling
penting dan paling banyak digunakan di bidang statistika. Fungsi densitas
distribusi normal diperoleh dengan persamaan sebagai berikut: dimana π = 3,1416
e = 2,7183 µ = rata-rata σ = simpangan baku Persamaan di atas bila dihitung dan
diplot pada grafik akan terlihat seperti pada Gambar 1 berikut: Gambar 1. kurva
distribusi normal umum Sifat-sifat penting distribusi normal adalah sebagai berikut:
1. Grafiknya selalu berada di atas sumbu x 2. Bentuknya simetris pada x = µ 3.
Mempunyai satu buah modus, yaitu pada x = µ 4. Luas grafiknya sama dengan satu
unit persegi, dengan rincian a. Kira-kira 68% luasnya berada di antara daerah µ
– σ dan µ + σ b. Kira-kira 95% luasnya berada di antara daerah µ – 2σ dan µ +
2σ c. Kira-kira 99% luasnya berada di antara daerah µ – 3σ dan µ + 3σ Membuat
kurva normal umum bukanlah suatu pekerjaan yang mudah. Lihat saja rumus untuk
mencari fungsi densitasnya (nilai pada sumbu Y) begitu rumit. Oleh karena itu,
orang tidak banyak menggunakannya. Orang lebih banyak menggunakan DISTIBUSI
NORMAL BAKU. Kurva distribusi normal baku diperoleh dari distribusi normal umum
dengan cara transformasi nilai x menjadi nilai z, dengan formula sbb: Kurva
distribusi normal baku disajikan pada Gambar 2 berikut ini. Gambar 2. Kurva
distribusi normal baku Kurva distribusi normal baku lebih sederhana dibanding
kurva normal umum. Pada kurva distribusi normal baku, nilai µ = 0 dan nilai
σ=1, sehingga terlihat lebih menyenangkan. Namun, sifat-sifatnya persis sama
dengan sifat-sifat distribusi normal umum. Untuk keperluan praktis, para ahli
statistika telah menyusun Tabel distribusi normal baku dan tabel tersebut dapat
ditemukan hampir di semua buku teks Statistika. Tabel distribusi normal bakui
disebut juga dengan Tabel Z dan dapat digunakan untuk mencari peluang di bawah
kurva normal secara umum, asal saja nilai µ dan σ diketahui. Sebagai catatan
nilai µ dan σ dapat diganti masing-masing dengan nilai dan S. Distribusi t
Distribusi t merupakan salah satu pengembangan dari Distribusi z. Secara
prinsip penggunaan Distribusi t digunakan untuk membandingkan rata-rata dari
dua sampel. Rata-rata dua sampel tersebut dibandingkan untuk mengetahui apakah
dua data tersebut mempunyai beda. Distribusi biasanya digunakan untuk data yang
banyak sampelnya kurang dari sama dengan 30. t di definisikan sebagai berikut:
Dari definisi nilai t di atas, ada beberapa nilai yang perlu kita ketahui:
sehingga inputan data di atas sebaiknya anda tahu. Contoh ada nilai siswa
sebagai berikut: Nilai 66 40 75 64 65 71 66 81 65 50 Apakah nilai data tersebut
rata-ratanya sama dengan data yang lain yang rata-ratanya 60? Dari data di atas
diperoleh nilai sebagai berikut: Misalkan taraf signifikansinya 0.05, nilai
derajat kebebasan data tersebut dk = 10 - 1 = 9. Dari tabel distribusi t
didapatkan : Sedangkan nilai t hitung bisa diperoleh dari : Dari nilai tersebut
diperoleh Kesimpulannya data diatas tidak berbeda signifikan dengan data yang
rata-rata populasinya 60. Distribusi F (ANOVA) ANOVA kepanjangan dari Analysis
of Variance. Distribusi yang ditemukan oleh seorang ahli statistika bernama R.A
Fisher pada tahun 1920. Distribusi F (ANOVA) adalah prosedur statistika untuk
menghitung apakah rata-rata hitung drai 3 populasi atau lebih sama atau tidak.
Distribusi ini digunakan untuk menguji rata-rata dari tiga atau lebih populasi
sekaligus untuk menentukan apakah rata-rata itu sama atau tidak. Distribusi F
(ANOVA) terbagi menjadi 2 klasifikasi: 1. Klasifikasi satu arah Klasifikasi
satu arah adalah sebuah klasifikasi pengmatan yang hanya didasarkan pada satu
kriteria. 2. Klasifikasi dua arah Klasifikasi dua arah adalah suatu pengamatan
yang didasarkan pada dua kriteria seperti varietas dan jenis pupuk.suatu
pengamatan dapat diklasifikasikan menurut dua criteria dengan menyusun data
tersebut menjadi baris dan kolom, kolom menyatakan kriterika klasifikasi yang
satu sedangkan baris menyatakan criteria klasifikasi yang lainnya.
Minggu, 13 April 2014
TUGAS BAB V. MOMENT, KEMIRINGAN DAN KURTOSIS
BAB V. MOMENT, KEMIRINGAN DAN
KURTOSIS Skewness and Kurtosis Rata-rata dan ukuran penyebaran dapat
menggambarkan distribusi data tetapi tidak cukup untuk menggambarkan sifat
distribusi. Untuk dapat menggambarkan karakteristik dari suatu distribusi data,
kita menggunakan konsep-konsep lain yang dikenal sebagai kemiringan (skewness)
dan keruncingan (kurtosis). Skewness Kemiringan (skewness) berarti
ketidaksimetrisan. Sebuah distribusi dikatakan simetris apabila nilai-nilainya
tersebar merata disekitar nilai rata-ratanya. Sebagai contoh, distribusi data
berikut simetris terhadap nilai rata-ratanya, 3. x 1 2 3 4 5 frek f) 5 9 12 9 5
Pada contoh gambar berikut, distribusi data tidak simetris. Gambar pertama
miring (menjulur) ke arah kiri dan gambar ke-2 miring ke arah kanan. Pada
distribusi data yang simetris, mean, median dan modus bernilai sama. Beberapa
langkah-langkah perhitungan digunakan untuk menyatakan arah dan tingkat
kemiringan dari sebaran data. Langkah-langkah tersebut diperkenalkan oleh
Pearson. Koefisien kemiringan(Coefficient of Skewness): Interpretasi: Untuk
distribusi data yang simetris, Sk = 0. Apabila distribusi data menjulur ke kiri
(negatively skewed), Sk bernilai negatif, dan apabila menjulur ke kanan
(positively skewed), SK bernilai positif. Kisaran untuk SK antara -3 dan 3.
Ukuran kemiringan yang lain adalah koefisien β1 (baca 'beta-satu'): dimana: Interpretasi:
Distribusi dikatakan simetris apabila nilai b1 = 0. Skewness positif atau
negatif tergantung pada nilai b1 apakah bernilai positif atau negatif. Ukuran
Skewness yang sering digunakan: Skewness Populasi: Skewness Sampel: Source: D.
N. Joanes and C. A. Gill. "Comparing Measures of Sample Skewness and
Kurtosis". The Statistician 47(1):183–189. atau formula berikut (MS
Excel): s = standar deviasi NB: kedua formula di atas menghasilkan nilai
skewness yang sama Interpretasi: Distribusi dikatakan simetris apabila nilai g1
= 0. Skewness positif atau negatif tergantung pada nilai g1 apakah bernilai
positif atau negatif. Menurut Bulmer, M. G., Principles of Statistics (Dover,
1979): • highly skewed: jika skewness kurang dari −1 atau lebih dari +1 • moderately
skewed: jika skewness antara −1 dan −½ atau antara +½ dan +1. • approximately
symmetric: jika skewness is berada di antara −½ dan +½. Kurtosis Kurtosis
merupakan ukuran untuk mengukur keruncingan distribusi data. Distribusi pada
gambar di atas semuanya simetris terhadap nilai rata-ratanya. Namun bentuk
ketiganya tidak sama. Kurva berwarna biru dikenal sebagai mesokurtik (kurva
normal), kurva berwarna merah dikenal sebagai leptokurtik (kurva runcing) dan
kurva berwarna hijau dikenal sebagai platikurtik (kurva datar). Kurtosis
dihitung dengan menggunakan koefisien Pearson, β2 (baca 'beta - dua'). dimana:
Ukuran Kurtosis yang sering digunakan: Kurtosis Populasi: Kurtosis: Excess
Kurtosis: Kurtosis Sampel: atau formula berikut (MS Excel): s = standar deviasi
NB: Excel menggunakan nilai Excess Kurtosis. Hasil perhitungan dari kedua
formula di atas, menghasilkan nilai yang sama Interpretasi: Distribusi
dikatakan: • Mesokurtik (Normal) jika b2 = 3 • Leptokurtik jika b2 > 3 •
platikurtik jika b2 < 3 Analisis Korelasi Product Moment dalam Statistika
Analisis korelasi merupakan salah satu teknik statistik yang digunakan untuk
menganalisis hubungan antara dua variabel atau lebih yang bersifat kuantitatif.
Salah satu dari analisis korelasi tersebut adalah analisis korelasi product
moment (Pearson). Variabel yang digunakan disini terbagi dua yaitu variabel
bebas (x) dengan variabel terikat (y), dengan ketentuan data memiliki
syarat-syarat tertentu. Korelasi Pearson Product Moment (r) dapat
diformulasikan sbb: dengan ketentuan −1 ≤ r ≤ r . Dan interpretasi koefisien
korelasi nilai r ini dapat dirangkum dalam tabel berikut: Langkah-langkah yang
diperlukan untuk uji korelasi Pearson Product Moment adalah sebagai berikut :
1. Rumuskan hipotesis Ha dan Ho dalam bentuk kalimat. 2. Rumuskan hipotesis Ha
dan Ho dalam bentuk statistik. 3. Buat tabel pembantu. 4. Tentukan r 5.
Tentukan nilai KP 6. Lakukan uji signifikansi. 7. Tentukan α , dengan derajat
bebas db = n − 2 . 8. Tentukan konklus
TUGAS BAB 4 UKURAN PENYIMPANGAN
PENGUKURAN PENYIMPANGAN Pengukuran
penyimpangan adalah suatu ukuran yang menunjukkan tinggi rendahnya perbedaan
data yang diperoleh dari rata-ratanya. Ukuran penyimpangan digunakan untuk
mengetahui luas penyimpangan data atau homogenitas data. Dua variabel data yang
memiliki mean sama belum tentu memiliki kualitas yang sama, tergantung dari
besar atau kecil ukuran penyebaran datanya. Ada bebarapa macam ukuran
penyebaran data, namun yang umum digunakan adalah standar deviasi. Macam-macam
ukuran penyimpangan data adalah : 1. Jangkauan (range) 2. Simpangan rata-rata
(mean deviation) 3. Simpangan baku (standard deviation) 4. Varians (variance)
5. Koefisien variasi (Coefficient of variation) 1. Jangkauan (range) Range
adalah salah satu ukuran statistik yang menunjukan jarak penyebaran data antara
nilai terendah (Xmin) dengan nilai tertinggi (Xmax). Ukuran ini sudah digunakan
pada pembahasan daftar distribusi frekuensi. Adapun rumusnya adalah Contoh :
Berikut ini nilai ujian semester dari 3 mahasiswa A = 60 55 70 65 50 80 40 B =
50 55 60 65 70 65 55 C = 60 60 60 60 60 60 60 Dari data diatas dapat diketahui
bahwa A = memiliki Xmax=80, Xmin= 40 , R = 40 , meanya 60 B = memiliki Xmax=70,
Xmin= 50 , R = 20 , meanya 60 C = memiliki Xmax=60, Xmin= 60 , R = 0 , meanya
60 Dari contoh di atas dapat disimpulkan bahwa : a. Semakin kecil rangenya maka
semakin homogen distribusinya b. Semakin besar rangenya maka semakin heterogen
distribusinya c. Semakin kecil rangenya, maka meannya merupakan wakil yang
representatif d. Semakin besar rangenya maka meannya semakin kurang
representatif 2. Simpangan Rata-rata (mean deviation) Simpangan rata-rata
merupakan penyimpangan nilai-nilai individu dari nilai rata-ratanya. Rata-rata
bisa berupa mean atau median. Untuk data mentah simpangan rata-rata dari median
cukup kecil sehingga simpangan ini dianggap paling sesuai untuk data mentah.
Namun pada umumnya, simpangan rata-rata yang dihitung dari mean yang sering
digunakan untuk nilai simpangan rata-rata. § Data tunggal dengan seluruh skornya berfrekuensi satu
dimana xi merupakan nilai data §
Data tunggal sebagian atau seluluh skornya berfrekuensi lebih dari satu dimana
xi merupakan nilai data §
Data kelompok ( dalam distribusi frekuensi) dimana xi merupakan tanda kelas
dari interval ke-i dan fi merupakan frekuensi interval ke-i Contoh : Dari tabel
diperoleh 3. Simpangan Baku (standard deviation) Standar deviasi merupakan ukuran
penyebaran yang paling banyak digunakan. Semua gugus data dipertimbangkan
sehingga lebih stabil dibandingkan dengan ukuran lainnya. Namun, apabila dalam
gugus data tersebut terdapat nilai ekstrem, standar deviasi menjadi tidak
sensitif lagi, sama halnya seperti mean. Standar Deviasi memiliki beberapa
karakteristik khusus lainnya. SD tidak berubah apabila setiap unsur pada gugus
datanya di tambahkan atau dikurangkan dengan nilai konstan tertentu. SD berubah
apabila setiap unsur pada gugus datanya dikali/dibagi dengan nilai konstan
tertentu. Bila dikalikan dengan nilai konstan, standar deviasi yang dihasilkan
akan setara dengan hasilkali dari nilai standar deviasi aktual dengan konstan.
Rumus Simpangan Baku untuk Data Tunggal § untuk data sample menggunakan rumus § untuk data populasi menggunkan rumus Contoh : Selama 10
kali ulangan semester ini sobat mendapat nilai 91, 79, 86, 80, 75, 100, 87, 93,
90,dan 88. Berapa simpangan baku dari nilai ulangan sobat? Jawab Soal di atas
menanyakan simpangan baku dari data populasi jadi menggunakan rumus simpangan
baku untuk populasi. Kita cari dulu rata-ratanya rata-rata =
(91+79+86+80+75+100+87+93+90+88)/10 = 869/10 = 85,9 Kita masukkan ke rumus
Rumus Simpangan Baku Untuk Data Kelompok § untuk sample menggunakan rumus § untuk populasi menggunakan rumus Contoh :Diketahui data
tinggi badan 50 siswa samapta kelas c adalah sebagai berikut hitunglah berapa
simpangan bakunya 1. Kita cari dulu rata-rata data kelompok tersebut 2. Setelah
ketemu rata-rata dari data kelompok tersebut kita bikin tabel untuk
memasukkannya ke rumus simpangan baku 4. Varians (variance) Varians adalah
salah satu ukuran dispersi atau ukuran variasi. Varians dapat menggambarkan
bagaimana berpencarnya suatu data kuantitatif. Varians diberi simbol σ2 (baca:
sigma kuadrat) untuk populasi dan untuk s2 sampel. Selanjutnya kita akan
menggunakan simbol s2 untuk varians karena umumnya kita hampir selalu berkutat
dengan sampel dan jarang sekali berkecimpung dengan populasi. Rumus varian atau
ragam data tunggal untuk populasi Rumus varian atau ragam data tunggal untuk
sampel Rumus varian atau ragam data kelompok untuk populasi Rumus varian atau
ragam data kelompok untuk sampel Keterangan: σ2 = varians atau ragam untuk
populasi S2 = varians atau ragam untuk sampel fi = Frekuensi xi = Titik tengah
x¯ = Rata-rata (mean) sampel dan μ = rata-rata populasi n = Jumlah data 5.
Koefisien variasi (Coefficient of variation) Koefisien variasi merupakan suatu
ukuran variansi yang dapat digunakan untuk membandingkan suatu distribusi data
yang mempunyai satuan yang berbeda. Kalau kita membandingkan berbagai variansi
atau dua variabel yang mempunyai satuan yang berbeda maka tidak dapat dilakukan
dengan menghitung ukuran penyebaran yang sifatnya absolut. Koefisien variasi
adalah suatu perbandingan antara simpangan baku dengan nilai rata-rata dan
dinyatakan dengan persentase. Besarnya koefisien variasi akan berpengaruh
terhadap kualitas sebaran data. Jadi jika koefisien variasi semakin kecil maka
datanya semakin homogen dan jika koefisien korelasi semakin besar maka datanya
semakin heterogen. Daftas Pustaka : Suharyadi, & Purwanto. (2009). In
Statistika untuk Ekonomi dan Keuangan Modern. Jakarta: Salemba Empat.
TUGAS BAB III UKURAN PEMUSATAN
TUGAS
BAB III UKURAN PEMUSATAN
UKURAN PEMUSATAN : mean, modus,
median Salah satu aspek yang paling penting untuk menggambarkan distribusi data
adalah nilai pusat data pengamatan (Central Tendency). Setiap pengukuran
aritmatika yang ditujukan untuk menggambarkan suatu nilai yang mewakili nilai
pusat atau nilai sentral dari suatu gugus data (himpunan pengamatan) dikenal
sebagai ukuran pemusatan data (tendensi sentral). Terdapat tiga ukuran
pemusatan data yang sering digunakan, yaitu: • Mean (Rata-rata hitung/rata-rata
aritmetika) • Median • Mode Pada artikel ini akan di bahas mengenai pengertian
beberapa ukuran pemusatan data yang dilengkapi dengan contoh perhitungan, baik
untuk data tunggal ataupun data yang sudah dikelompokkan dalam tabel distribusi
frekuensi. Selain ukuran statistik di atas, akan dibahas juga mengenai beberapa
ukuran statistik lainnya, seperti Rata-rata Ukur (Geometric Mean),Rata-rata
Harmonik (H) serta beberapa karakteristik penting yang perlu dipahami untuk
ukuran tendensi sentral yang baik serta bagaimana memilih atau menggunakan
nilai tendensi sentral yang tepat. (1) Mean (arithmetic mean) Rata-rata hitung
atau arithmetic mean atau sering disebut dengan istilah mean saja merupakan
metode yang paling banyak digunakan untuk menggambarkan ukuran tendensi
sentral. Mean dihitung dengan menjumlahkan semua nilai data pengamatan kemudian
dibagi dengan banyaknya data. Definisi tersebut dapat di nyatakan dengan
persamaan berikut: Sampel: Populasi: Keterangan: ∑ = lambang penjumlahan semua
gugus data pengamatan n = banyaknya sampel data N = banyaknya data populasi =
nilai rata-rata sampel μ = nilai rata-rata populasi Meandilambangkan dengan
(dibaca "x-bar") jika kumpulan data ini merupakan contoh (sampel)
dari populasi, sedangkan jika semua data berasal dari populasi, mean
dilambangkan dengan μ(huruf kecil Yunani mu). Sampel statistik biasanya
dilambangkan dengan huruf Inggris, , sementara parameter-parameter populasi
biasanya dilambangkan dengan huruf Yunani, misalnya μ a. Rata-rata hitung
(Mean) untuk data tunggal Contoh 1: Hitunglah nilai rata-rata dari nilai ujian
matematika kelas 3 SMU berikut ini: 2; 4; 5; 6; 6; 7; 7; 7; 8; 9 Jawab: Nilai
rata-rata dari data yang sudah dikelompokkan bisa dihitung dengan menggunakan
formula berikut: Keterangan: ∑ = lambang penjumlahan semua gugus data
pengamatan fi = frekuensi data ke-i n = banyaknya sampel data = nilai rata-rata
sampel Contoh 2: Berapa rata-rata hitung pada tabel frekuensi berikut: xi fi 70
5 69 6 45 3 80 1 56 1 Catatan: Tabel frekuensi pada tabel di atas merupakan
tabel frekuensi untuk data tunggal, bukan tabel frekuensi dari data yang sudah
dikelompokkan berdasarkan selang/kelas tertentu. Jawab: xi fi fixi 70 5 350 69
6 414 45 3 135 80 1 80 56 1 56 Jumlah 16 1035 b. Mean dari data distribusi
Frekuensi atau dari gabungan: Distribusi Frekuensi: Rata-rata hitung dari data
yang sudah disusun dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dapat ditentukan
dengan menggunakan formula yang sama dengan formula untuk menghitung nilai
rata-rata dari data yang sudah dikelompokkan, yaitu: Keterangan: ∑ = lambang
penjumlahan semua gugus data pengamatan fi = frekuensi data ke-i = nilai
rata-rata sampel Contoh 3: Tabel berikut ini adalah nilai ujian statistik 80
mahasiswa yang sudah disusun dalam tabel frekuensi. Berbeda dengan contoh 2,
pada contoh ke-3 ini, tabel distribusi frekuensi dibuat dari data yang sudah
dikelompokkan berdasarkan selang/kelas tertentu (banyak kelas = 7 dan panjang
kelas = 10). Nilai Ujian fi 1.31 - 40 2 2.41 - 50 3 3.51 - 60 5 4.61 - 70 13
5.71 - 80 24 6.81 - 90 21 7.91 - 100 12 Jumlah 80 Jawab: Buat daftar tabel berikut,
tentukan nilai pewakilnya (xi) dan hitung fixi. Kelas ke- Nilai Ujian fi xi
fixi 1 31 - 40 2 35.5 71.0 2 41 - 50 3 45.5 136.5 3 51 - 60 5 55.5 277.5 4 61 -
70 13 65.5 851.5 5 71 - 80 24 75.5 1812.0 6 81 - 90 21 85.5 1795.5 7 91 - 100
12 95.5 1146.0 Jumlah 80 6090.0 Catatan: Pendekatan perhitungan nilai rata-rata
hitung dengan menggunakan distribusi frekuensi kurang akurat dibandingkan
dengan cara perhitungan rata-rata hitung dengan menggunakan data aktualnya.
Pendekatan ini seharusnya hanya digunakan apabila tidak memungkinkan untuk
menghitung nilai rata-rata hitung dari sumber data aslinya. Rata-rata Gabungan
atau rata-rata terboboti (Weighted Mean) Rata-rata gabungan (disebut juga grand
mean, pooled mean, atau rata-rata umum) adalah cara yang tepat untuk
menggabungkan rata-rata hitung dari beberapa sampel. Contoh 4: Tiga sub sampel
masing-masing berukuran 10, 6, 8 dan rata-ratanya 145, 118, dan 162. Berapa
rata-ratanya? Jawab: (2) Median Median dari n pengukuran atau pengamatan x1, x2
,..., xn adalah nilai pengamatan yang terletak di tengah gugus data setelah
data tersebut diurutkan. Apabila banyaknya pengamatan (n) ganjil, median
terletak tepat ditengah gugus data, sedangkan bila n genap, median diperoleh
dengan cara interpolasi yaitu rata-rata dari dua data yang berada di tengah
gugus data. Dengan demikian, median membagi himpunan pengamatan menjadi dua
bagian yang sama besar, 50% dari pengamatan terletak di bawah median dan 50%
lagi terletak di atas median. Median sering dilambangkan dengan (dibaca "x-tilde")
apabila sumber datanya berasal dari sampel (dibaca "μ-tilde") untuk
median populasi. Median tidak dipengaruhi oleh nilai-nilai aktual dari
pengamatan melainkan pada posisi mereka. Prosedur untuk menentukan nilai
median, pertama urutkan data terlebih dahulu, kemudian ikuti salah satu
prosedur berikut ini: • Banyak data ganjil → mediannya adalah nilai yang berada
tepat di tengah gugus data • Banyak data genap → mediannya adalah rata-rata
dari dua nilai data yang berada di tengah gugus data a. Median data tunggal:
Untuk menentukan median dari data tunggal, terlebih dulu kita harus mengetahui
letak/posisi median tersebut. Posisi median dapat ditentukan dengan menggunakan
formula berikut: dimana n = banyaknya data pengamatan. Median apabila n ganjil:
Contoh 5: Hitunglah median dari nilai ujian matematika kelas 3 SMU berikut ini:
8; 4; 5; 6; 7; 6; 7; 7; 2; 9; 10 Jawab: • data: 8; 4; 5; 6; 7; 6; 7; 7; 2; 9;
10 • setelah diurutkan: 2; 4; 5; 6; 6; 7; 7; 7; 8; 9; 10 • banyaknya data (n) =
11 • posisi Me = ½(11+1) = 6 • jadi Median = 7 (data yang terletak pada urutan
ke-6) Nilai Ujian 2 4 5 6 6 7 7 7 8 9 10 Urutan data ke- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
11 ↑ Median apabila n genap: Contoh 6: Hitunglah median dari nilai ujian
matematika kelas 3 SMU berikut ini: 8; 4; 5; 6; 7; 6; 7; 7; 2; 9 Jawab: • data:
8; 4; 5; 6; 7; 6; 7; 7; 2; 9 • setelah diurutkan: 2; 4; 5; 6; 6; 7; 7; 7; 8; 9
• banyaknya data (n) = 10 • posisi Me = ½(10+1) = 5.5 • Data tengahnya: 6 dan 7
• jadi Median = ½ (6+7) = 6.5 (rata-rata dari 2 data yang terletak pada urutan
ke-5 dan ke-6) Nilai Ujian 2 4 5 6 6 7 7 7 8 9 Urutan data ke- 1 2 3 4 5 6 7 8
9 10 ↑ b. Median dalam distribusi frekuensi: Formula untuk menentukan median
dari tabel distribusi frekuensi adalah sebagai berikut: b = batas bawah kelas
median dari kelas selang yang mengandung unsur atau memuat nilai median p =
panjang kelas median n = ukuran sampel/banyak data f = frekuensi kelas median F
= Jumlah semua frekuensi dengan tanda kelas lebih kecil dari kelas median (∑fi)
Contoh 7: Tentukan nilai median dari tabel distribusi frekuensi pada Contoh 3
di atas! Jawab: Kelas ke- Nilai Ujian fi fkum 1 31 - 40 2 2 2 41 - 50 3 5 3 51
- 60 5 10 4 61 - 70 13 23 5 71 - 80 24 47 ←letak kelas median 6 81 - 90 21 68 7
91 - 100 12 80 8 Jumlah 80 • Letak kelas median: Setengah dari seluruh data =
40, terletak pada kelas ke-5 (nilai ujian 71-80) • b = 70.5, p = 10 • n = 80, f
= 24 • f = 24 (frekuensi kelas median) • F = 2 + 3 + 5 + 13 = 23 (3) Mode Mode
adalah data yang paling sering muncul/terjadi. Untuk menentukan modus, pertama
susun data dalam urutan meningkat atau sebaliknya, kemudian hitung
frekuensinya. Nilai yang frekuensinya paling besar (sering muncul) adalah
modus. Modus digunakan baik untuk tipe data numerik atau pun data kategoris.
Modus tidak dipengaruhi oleh nilai ekstrem. Beberapa kemungkinan tentang modus
suatu gugus data: • Apabila pada sekumpulan data terdapat dua mode, maka gugus
data tersebut dikatakan bimodal. • Apabila pada sekumpulan data terdapat lebih
dari dua mode, maka gugus data tersebut dikatakan multimodal. • Apabila pada
sekumpulan data tidak terdapat mode, maka gugus data tersebut dikatakan tidak
mempunyai modus. Meskipun suatu gugus data mungkin saja tidak memiliki modus,
namun pada suatu distribusi data kontinyu, modus dapat ditentukan secara
analitis. • Untuk gugus data yang distribusinya simetris, nilai mean, median
dan modus semuanya sama. • Untuk distribusi miring ke kiri (negatively skewed):
mean < median < modus • untuk distribusi miring ke kanan (positively
skewed): terjadi hal yang sebaliknya, yaitu mean > median > modus.
Hubungan antara ketiga ukuran tendensi sentral untuk data yang tidak
berdistribusi normal, namun hampir simetris dapat didekati dengan menggunakan
rumus empiris berikut: Mean - Mode = 3 (Mean - Median) a. Modus Data Tunggal:
Contoh 8: Berapa modus dari nilai ujian matematika kelas 3 SMU berikut ini: •
2, 4, 5, 6, 6, 7, 7, 7, 8, 9 • 2, 4, 6, 6, 6, 7, 7, 7, 8, 9 • 2, 4, 6, 6, 6, 7,
8, 8, 8, 9 • 2, 4, 5, 5, 6, 7, 7, 8, 8, 9 • 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10
Jawab: • 2, 4, 5, 6, 6, 7, 7, 7, 8, 9→ Nilai yang sering muncul adalah angka 7
(frekuensi terbanyak = 3), sehingga Modus (M) = 7 • 2, 4, 6, 6, 6, 7, 7, 7, 8,
9 → Nilai yang sering muncul adalah angka 6 dan 7 (masing-masing muncul 3
kali), sehingga Modusnya ada dua, yaitu 6 dan 7. Gugus data tersebut dikatakan
bimodal karena mempunyai dua modus. Karena ke-2 mode tersebut nilainya
berurutan, mode sering dihitung dengan menghitung nilai rata-rata keduanya, ½
(6+7) = 6.5. • 2, 4, 6, 6, 6, 7, 8, 8, 8, 9 → Nilai yang sering muncul adalah
angka 6 dan 8 (masing-masing muncul 3 kali), sehingga Modusnya ada dua, yaitu 6
dan 8. Gugus data tersebut dikatakan bimodal karena mempunyai dua modus. Nilai
mode tunggal tidak dapat dihitung karena ke-2 mode tersebut tidak berurutan. •
2, 4, 5, 5, 6, 7, 7, 8, 8, 9 → Nilai yang sering muncul adalah angka 5, 6 dan 7
(masing-masing muncul 2 kali), sehingga Modusnya ada tiga, yaitu 5, 6 dan 7.
Gugus data tersebut dikatakan multimodal karena modusnya lebih dari dua. • 1,
2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10 → Pada gugus data tersebut, semua frekuensi data
sama, masing-masing muncul satu kali, sehingga gugus data tersebut dikatakan
tidak mempunyai modusnya b. Mode dalam Distribusi Frekuensi: dimana: Mo = modal
= kelas yang memuat modus b = batas bawah kelas modal p = panjang kelas modal
bmo = frekuensi dari kelas yang memuat modus (yang nilainya tertinggi) b1= bmo
– bmo-1 = frekuensi kelas modal – frekuensi kelas sebelumnya b2 = bmo – bmo+1 =
frekuensi kelas modal – frekuensi kelas sesudahnya Contoh 9: Tentukan nilai
median dari tabel distribusi frekuensi pada Contoh 3 di atas! Jawab: Kelas ke-
Nilai Ujian fi 1 31 - 40 2 2 41 - 50 3 3 51 - 60 5 4 61 - 70 13 → b1 = (24 –
13) = 11 5 71 - 80 24 ← kelas modal (frekuensinya paling besar) → b2 =(24 – 21)
=3 6 81 - 90 21 7 91 - 100 12 8 Jumlah 80 • Kelas modul =kelas ke-5 • b =
71-0.5 = 70.5 • b1 = 24 -13 = 11 • b2 = 24 – 21 = 3 • p = 10 Selain tiga ukuran
tendensi sentral di atas (mean, median, dan mode), terdapat ukuran tendensi
sentral lainnya, yaitu rata-rata ukur (Geometric Mean) dan rata-rata harmonis
(Harmonic Mean) (4) Rata-rata Ukur (Geometric Mean) Untuk gugus data positif
x1, x2, …, xn, rata-rata geometrik adalah akar ke-n dari hasil perkalian
unsur-unsur datanya. Secara matematis dapat dinyatakan dengan formula berikut:
Dimana: U = rata-rata ukur (rata-rata geometrik) n = banyaknya sampel Π = Huruf
kapital π (pi) yang menyatakan jumlah dari hasil kali unsur-unsur data.
Rata-rata geometrik sering digunakan dalam bisnis dan ekonomi untuk menghitung
rata-rata tingkat perubahan, rata-rata tingkat pertumbuhan, atau rasio
rata-rata untuk data berurutan tetap atau hampir tetap atau untuk rata-rata
kenaikan dalam bentuk persentase. a. Rata-rata ukur untuk data tunggal Contoh
10: Berapakah rata-rata ukur dari data 2, 4, 8? Jawab: atau: b. Distribusi
Frekuensi: xi = tanda kelas (nilai tengah) fi = frekuensi yang sesuai dengan xi
Contoh 11: Tentukan rata-rata ukur dari tabel distribusi frekuensi pada Contoh
3 di atas! Jawab Kelas ke- Nilai Ujian fi xi log xi fi.log xi 1 31 - 40 2 35.5
1.5502 3.1005 2 41 - 50 3 45.5 1.6580 4.9740 3 51 - 60 5 55.5 1.7443 8.7215 4
61 - 70 13 65.5 1.8162 23.6111 5 71 - 80 24 75.5 1.8779 45.0707 6 81 - 90 21
85.5 1.9320 40.5713 7 91 - 100 12 95.5 1.9800 23.7600 8 Jumlah 80 149.8091 (5)
Rata-rata Harmonik (H) Rata-rata harmonik dari suatu kumpulan data x1, x2, …,
xn adalah kebalikan dari nilai rata-rata hitung (aritmetik mean). Secara
matematis dapat dinyatakan dengan formula berikut: Secara umum, rata-rata
harmonic jarang digunakan. Rata-rata ini hanya digunakan untuk data yang
bersifat khusus. Misalnya,rata-rata harmonik sering digunakan sebagai ukuran
tendensi sentral untuk kumpulan data yang menunjukkan adanya laju perubahan,
seperti kecepatan. a. Rata-rata harmonic untuk data tunggal Contoh 12: Si A
bepergian pulang pergi. Waktu pergi ia mengendarai kendaraan dengan kecepatan
10 km/jam, sedangkan waktu kembalinya 20 km/jam. Berapakah rata-rata kecepatan
pulang pergi? Jawab: Apabila kita menghitungnya dengan menggunakan rumus jarak
dan kecepatan, tentu hasilnya 13.5 km/jam! Apabila kita gunakan perhitungan
rata-rata hitung, hasilnya tidak tepat! Pada kasus ini, lebih tepat menggunakan
rata-rata harmonik: b. Rata-rata Harmonik untuk Distribusi Frekuensi: Contoh
13: Berapa rata-rata Harmonik dari tabel distribusi frekuensi pada Contoh 3 di
atas! Jawab: Kelas ke- Nilai Ujian fi xi fi/xi 1 31 - 40 2 35.5 0.0563 2 41 -
50 3 45.5 0.0659 3 51 - 60 5 55.5 0.0901 4 61 - 70 13 65.5 0.1985 5 71 - 80 24
75.5 0.3179 6 81 - 90 21 85.5 0.2456 7 91 - 100 12 95.5 0.1257 8 Jumlah 80
1.1000 Perbandingan Ketiga Rata-rata (Mean): Karakteristik penting untuk ukuran
tendensi sentral yang baik Ukuran nilai pusat/tendensi sentral (average)
merupakan nilai pewakil dari suatu distribusi data, sehingga harus memiliki sifat-sifat
berikut: • Harus mempertimbangkan semua gugus data • Tidak boleh terpengaruh
oleh nilai-nilai ekstrim. • Harus stabil dari sampel ke sampel. • Harus mampu
digunakan untuk analisis statistik lebih lanjut. Dari beberapa ukuran nilai
pusat, Mean hampir memenuhi semua persyaratan tersebut, kecuali syarat pada
point kedua, rata-rata dipengaruhi oleh nilai ekstrem. Sebagai contoh, jika
item adalah 2; 4; 5; 6; 6; 6; 7; 7; 8; 9 maka mean, median dan modus semua
bernilai sama, yaitu 6. Jika nilai terakhir adalah 90 bukan 9, rata-rata akan
menjadi 14.10, sedangkan median dan modus tidak berubah. Meskipun dalam hal ini
median dan modus lebih baik, namun tidak memenuhi persyaratan lainnya. Oleh
karena itu Mean merupakan ukuran nilai pusat yang terbaik dan sering digunakan
dalam analisis statistik. Kapan kita menggunakan nilai tendensi sentral yang
berbeda? Nilai ukuran pusat yang tepat untuk digunakan tergantung pada sifat
data, sifat distribusi frekuensi dan tujuan. Jika data bersifat kualitatif,
hanya modus yang dapat digunakan. Sebagai contoh, apabila kita tertarik untuk
mengetahui jenis tanah yang khas di suatu lokasi, atau pola tanam di suatu
daerah, kita hanya dapat menggunakan modus. Di sisi lain, jika data bersifat
kuantitatif, kita dapat menggunakan salah satu dari ukuran nilai pusat
tersebut, mean atau median atau modus. Meskipun pada jenis data kuantitatif
kita dapat menggunakan ketiga ukuran tendensi sentral, namun kita harus
mempertimbangkan sifat distribusi frekuensi dari gugus data tersebut. • Bila distribusi
frekuensi data tidak normal (tidak simetris), median atau modusmerupakan ukuran
pusat yang tepat. • Apabila terdapat nilai-nilai ekstrim, baik kecil atau
besar, lebih tepat menggunakan median atau modus. • Apabila distribusi data
normal (simetris), semua ukuran nilai pusat, baik mean, median, atau modus
dapat digunakan. Namun, mean lebih sering digunakandibanding yang lainnya
karena lebih memenuhi persyaratan untuk ukuran pusat yang baik. • Ketika kita
berhadapan dengan laju, kecepatan dan harga lebih tepat menggunakan rata-rata
harmonik. • Jika kita tertarik pada perubahan relatif, seperti dalam kasus
pertumbuhan bakteri, pembelahan sel dan sebagainya, rata-rata geometrik adalah
rata-rata yang paling tepat. ________________________________________ Referensi:
• Mario Triola. 2004. Elementary Statistics. 9th Edition. Pearson Education. •
Stephen Bernstein and Ruth Bernstein. 1999. Elements of Statistics I:
Descriptive Statistics and Probability. The McGraw-Hill Companies, Inc
Langganan:
Komentar (Atom)